Beranda Manajemen Proyek Dasar-Dasar Problem Solving

Dasar-Dasar Problem Solving

54
0
BERBAGI
dasar-dasar problem solving
dasar-dasar problem solving

Pada postingan sebelumnya telah kita pahami pentingnya kompetensi problem solving dalam kehidupan sehari-hari dalam menyelesaikan masalah termasuk masalah di proyek yang kompleksitasnya tinggi. Pada posting kali ini akan diberikan informasi mengenai dasar-dasar kompetensi problem solving.

Sejarah Awal

Proses pemecahan masalah secara sistematis bermula dari John Dewey, seorang profesor filosofi di Columbia University. Dalam bukunya tahun 1910, ia mengidentifikasi tiga seri penilaian yang terlibat dalam memecahkan masalah status kontroversi secara memadai yaitu:

  1. Mengenali kontroversi
  2. Menimbang klaim alternatif
  3. Membentuk penilaian

Pemahaman Dasar

Dalam rangka mempercepat pemahaman dalam rangka aplikasi metode problem solving yang efektif di proyek, berikut diberikan definisi terkait dengan Problem Solving:

  • Gejala adalah kondisi yang dihasilkan oleh masalah. Sangat sering para manajer melihat gejala dari pada masalah. Gejala menarik perhatian manajer melalui lingkaran umpan balik. Namun gejala tidak mengungkapkan seluruhnya, bahwa suatu masalah adalah penyebab dari suatu persoalan, atau penyebab dari suatu peluang.
  • Masalah adalah jarak yang membentang antara keadaan sekarang vs tujuan yang hendak dicapai/ suatu kondisi yang berpotensi menimbulkan kerugian luar biasa/ keuntungan luar biasa. Masalah terdiri dari:
    1. Masalah terstruktur terdiri dari elemen-elemen dan hubungan-hubungan antar-elemen yang semuanya dipahami oleh pemecah.
    2. Masalah tak terstruktur berisikan elemen-elemen atau hubungan-hubungan antar elemen yang tidak dipahami oleh pemecah masalah.
    3. Masalah semi-terstruktur adalah masalah yang berisi sebagian elemen-elemen atau hubungan yang dimengerti oleh pemecah masalah. Sebenarnya dalam suatu organisasi sangat sedikit permasalahan yang sepenuhnya terstruktur atau sepenuhnya tidak terstruktur. Sebagaian besar adalah masalah semi-terstruktur.

Setiap problem/ masalah berisi tiga ciri:

  1. The initial state (keadaan awal): menggambarkan situasi dimulainya dari problem.
  2. The goal state (mencapai tujuan): tujuan tercapai bila anda menyelesaikan masalah.
  3. The obstacles (tantangan): menggambarkan pembatasan yang membuat sulit memulai/meneruskan dari keadaan awal ke tujuan. Tantangan adalah hipotesis problem yang seharusnya mengikuti.

Bentuk Berfikir Problem Solving

Dalam proses analisa situasi, dibutuhkan pula proses berfikir/ transfer of training sebab pada hakikatnya berfikir adalah sebuah latihan yang dilakukan secara terus menerus sehingga kerangka logis dan kebiasaan kerja keras dalam berfikir dapat berakibat pada kemajuan berfikir untuk bidang lain. Adapun bentuk-bentuk berfikir dalam hubungannya dengan proses pemecahan masalah:

  1. Berfikir dengan pengalaman, pada bentuk ini seseorang lebih banyak menghimpun pengalaman-pengalaman dalam menyelesaikan masalah.
  2. Berfikir representative, pada bentuk ini proses berfikir sangat tergantung pada tanggapan dan ingatan-ingatan saja.
  3. Berfikir creative, bentuk ini menekankan pentingnya menghasilkan temuan-temuan baru dengan menggunakan metode-metode yang telah ada/dgn mengajukan metode baru yang lebih cocok.
  4. Berfikir reproduktif, metode ini dengan memikirkan kembali dan mencocokkan dengan sesuatu yang telah terfikirkan sebelumnya.
  5. Berfikir rasional, dalam menghadapi masalah maka dibutuhkan proses berfikir logis atau menggunakan keaktifan logis.

Berfikir kreatif tidak dimiliki sejak lahir, tapi akan didapat dan ditingkatkan melalui suatu latihan langsung. Otak adalah sebuah mobil yang didesign bagus, tapi perlu pengemudi yang terlatih, efektif & efisien.

Gaya/Style Terhadap Masalah

Pimpinan dapat dibagi dalam tiga kategori dasar dalam hal gaya merasakan masalah (problem solving styles), yaitu bagaimana mereka menghadapi masalah.

  1. Penghindar masalah (problem avoider). Pemimpin kelompok ini mengambil sikap positif dan menganggap bahwa semua baik-baik saja. Berusaha menghalangi kemungkinan masalah dengan mengabaikan informasi/ menghindarinya sepanjang perencanaan.
  2. Pemecah masalah (problem solver). Pemimpin jenis ini tidak mencari masalah, tetapi juga tidak menghindarinya. Jika timbal status masalah, maka masalahnya akan diselesaikan.
  3. Pencari masalah (problem seeker). Pemimpin jenis ini biasanya dapat menikmati pemecahan masalah dan selalu mencarinya.

Loading...

Tujuh Kerangka Berpikir Problem Solving

Ada tujuh kerangka berfikir dalam problem solving, yaitu:

  1. Originalitas dan Kemandirian, pendekatan originalitas dan kemandirian ini menjadi dasar agar tidak selalu bertitik tolak pada permasalahan biasa, tetapi masuk pada kondisi untuk mencari sesuatu yang baru dalam pemecahan masalah.
  2. Menentukan Target, menentukan target yang tepat dan berkonsentrasi kepadanya dengan menyortir kegiatan-kegiatan yang berhubungan langsung dengan target tersebut.
  3. Memecahkan Masalah Berulang-ulang, membuat model permasalahan, melakukan simulasi, dan mencoba model tersebut kepada permasalahan yang lain, lalu mensimulasinya kembali secara berulang-ulang, sehingga jawaban dari permasalahan yang terjadi memiliki sifat stabil.
  4. Memiliki Sistem Khusus, keberhasilan memecahkan suatu masalah akan memunculkan masalah lain. Hal ini karena satu masalah yang kita hadapi adalah bagian dari sistem permasalahan yang integral, sehingga diperlukan sistem pemecahan masalah yang mencakup keleluasaan elemen dan dimensi permasalahan yang sedang dihadapi.
  5. Mengumpulkan Informasi yang Akurat, informasi yang akurat menentukan keberhasilan pemecahan masalah. Ini termasuk keahlian dalam mencari & meracik berbagai informasi yang didapatkan.
  6. Orientasi kepada Orang Lain, pemecahan suatu masalah harus bersifat universal, sehingga setiap orang yang memiliki permasalahan yang sama bisa memecahkan masalah dengan menggunakan pendekatan yang pernah dilakukan pendahulunya.
  7. Memperbaiki Jadwal dan Program Kerja, kunci dalam memecahkan masalah yaitu menentukan tujuan atau target yang lebih besar, lalu menentukan pembaharuan sebagai antisipasi kemungkinan terjadinya masalah baru, lalu dilakukan dengan keyakinan dan manajemen yang baik.

Langkah Sistematis Problem Solving

Terdapat beberapa langkah yang sistematis dalam problem solving, yaitu:

  1. Tetapkan Tujuan
  2. Tulis/ petakan permasalahan yang ada
  3. Cari akar permasalahan yang mungkin
  4. Kembangkan hipotesis
  5. Tetapkan analisis dan informasi yang diperlukan untuk menguji hipotesis
  6. Kembangkan berbagai alternatif solusi
  7. Seleksi alternatif solusi
  8. Susun prioritas tindakan
  9. Kembangkan rencana implementasi

Sumber referensi: manajemenproyekindonesia.com

Sekian postingan kali ini, semoga bisa bermanfaat untuk kita semua. Jangan lupa share artikel ini ke sosial media agar yang lain dapat membacanya. Untuk mengikuti perbaruan konten situs ini, silahkan berlangganan melalui notifikasi yang muncul saat mengakses situs ini. Sekian dan terima kasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here