Beranda Manajemen Proyek Strategi Hemat Energi Proyek, Optimalisasi Beban Energi Passenger Hoist

Strategi Hemat Energi Proyek, Optimalisasi Beban Energi Passenger Hoist

154
0
BERBAGI
passenger hoist
passenger hoist

Telah disampaikan sebelumnya bahwa variabel beban energi konstruksi adalah variabel yang paling besar dampaknya terhadap penggunaan energi listrik. Di samping alat Tower Crane seperti pada pembahasan artikel sebelumnya, terdapat alat Passenger Hoist yang menempati urutan kedua dalam konsumsi energi. Postingan kali ini akan membahas strategi khusus menghemat biaya energi pada penggunaan alat passenger hoist berdasarkan pengalaman penulis.

Alat ini terdiri atas 2 jenis yaitu single cabin dan double cabin. Penghematan energi berdasarkan pemakaian listriknya yang tergantung pada:

  • Masa pemakaian
  • Kapasitas angkat
  • Ketinggian angkat
  • Frekuensi angkat

Berdasarkan masa pemakaian, alat ini mulai digunakan apabila ketinggian bangunan lebih dari 6 lantai atau kira-kira di atas 22m. Namun dapat saja dimulai pada lantai 8 (sekitar 30m) dengan catatan material dibantu pengangkatannya dengan alat angkat lain. Hal ini karena mengangkat material secara vertikal lebih dari 6 lantai secara manual sudah tidak efektif dan tidak efisien.

Penghematan energi pada kapasitas angkat (orang) pada alat ini dapat dilakukan dengan membagi penggunaannya berdasarkan jenis pekerjaan. Untuk pekerjaan high rise building, pekerjaan dibagi menjadi pekerjaan struktur dan arsitektur + M/E. Pekerjaan struktur membutuhkan pekerja yang lebih sedikit dari pada arsitektur + M/E. Sehingga disarankan untuk pekerjaan struktur, cukup menggunakan passenger hoist single cabin.

Ada suatu strategi khusus untuk mengurangi frekuensi angkat pada gedung high rise building yaitu dengan membuat suatu tempat istirahat kira-kira 3-4 lantai di bawah lantai struktur yang sedang dikerjakan pada pekerjaan struktur. Tujuannya adalah pada saat istirahat, pekerja tidak perlu kembali ke barak untuk makan, istirahat, dan ibadah. Aktifitas tersebut dilakukan pada lokasi kurang lebih 3-4 lantai di bawah lantai struktur yang sedang dikerjakan. Kontraktor perlu membuat tempat istirahat, makan, dan ibadah dan fasilitasnya yang bersifat portable sedemikian dapat dengan mudah untuk dipindahkan. Jika strategi ini berhasil, maka akan dapat menghemat listrik cukup signifikan.

Umumnya pekerjaan struktur dengan luas lantai 1100-1250 m2/lantai membutuhkan pekerja sekitar 120 orang. Dengan kapasitas angkat adalah 20 orang, maka dibutuhkan 6 kali angkat. Jika pekerjaan tidak lembur maka akan ada 2 siklus naik-turun (4x pergerakan) atau total 6×4=40 kali pergerakan naik dan turun. Ini belum menghitung bahwa tiap menaikkan pekerja, alat ini tetap membutuhkan energi listrik untuk turun mengambil pekerja lainnya. Demikian pula saat alat ini menurunkan pekerja dari atas, perlu energi listrik lain untuk naik kembali mengambil pekerja lainnya yang masih berada di atas.

Jika kebutuhan listrik diasumsikan sebesar 60 kW dan rata-rata siklus naik-turun adalah 15 menit atau total 1,5 jam, maka listrik yang dibutuhkan adalah 90 kWh. Penggunaan listrik berbahan bakar solar adalah sekitar Rp. 2750,-/kWh. Dengan asumsi pekerjaan dilakukan lembur dan terjadi 6 kali proses tersebut, maka biaya perbulan adalah 90 kWh x 6 x 30 x Rp. 2750,-/kWh = Rp. 44.550.000,- / bulan. Jika pekerjaan struktur high rise building (30 lantai ≈ Rp. 66 M) membutuhkan waktu 8 bulan, maka biaya total menjadi Rp. 356.000.000,-. Penggunaan tempat istirahat portable akan menghemat 50% atau sebesar Rp. 178.200.000,-. Ini belum termasuk penghematan oli genset dan lainnya. Prosentase biaya energi untuk proyek pekerjaan struktur adalah sekitar 2,5%. Maka penghematan biaya energi dengan asumsi biaya investasi tempat istirahat portable adalah sebesar 20jt, adalah sebesar Rp. 158jt / (2,5% x Rp. 66M) = 9,6%. Jika ditambah dengan penghematan oli genset, mungkin bisa mencapai 10%. Ini tentu penghematan energi yang cukup signifikan.

Akumulasi efisiensi atas strategi hemat energi pada pemakaian alat passenger hoist diperkirakan akan mampu menghasilkan 0,3%-0,35% terhadap nilai kontrak. Bagi kontraktor, penghematan sebesar itu tentu cukup besar mengingat keuntungan pekerjaan ini tidaklah banyak. Mungkin hanya sekitar 5%-8%. Sehingga strategi ini bisa dianggap tepat dimana mudah dikerjakan dan berdampak signifikan.

Sumber referensi: manajemenproyekindonesia.com

Sekian postingan kali ini, semoga artikel ini bisa membantu untuk menghasilkan profitabilitas yang lebih baik dengan cara yang smart. Jangan lupa share artikel ini ke sosial media agar teman-teman proyek lainnya bisa mendapatkan ilmunya juga. Untuk mengikuti perbaruan konten situs ini, silahkan berlangganan melalui notifikasi yang muncul saat mengakses situs ini. Sekian dan terima kasih telah berkunjung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here