Beranda Manajemen Proyek Big Gas Engine Delivery, Tantangan Non-Teknis

Big Gas Engine Delivery, Tantangan Non-Teknis

74
0
BERBAGI
tantangan non-teknis
tantangan non-teknis

Postingan ini adalah lanjutan pada postingan sebelumnya, dimana pada postingan ini akan membahas lebih detail mengenai hambatan non-teknis yang terjadi selama pengiriman gas engine tersebut. Pembahasan aspek non-teknis meliputi aspek Cuaca, Sosial-Politik-Ekonomi, dan Keamanan.

A. Kondisi Cuaca

A.1. Badai Sandy

Pada saat pelaksanaan yang dimulai pada bulan Oktober tahun lalu, cuaca sedang dalam musim hujan/dingin diberbagai belahan dunia. Badai yang terkenal yang menghambat di awal pekerjaan ini adalah Badai Sandy yang terjadi saat kapal yang direncanakan mengangkut ke tujuh engine ini sedang dalam perjalanan dari perairan teluk Meksiko ke Italy. Kemungkinan telah terjadi kerusakan, maka kapalpun terpaksa diganti. Beruntung pemilik kapal memiliki kapal heavy cargo lain yang kebetulan berada agak dekat dengan Italy.

kronologis badai sandy dan perjalanan calon kapal pengangkut engine
berita dampak badai sandy terhadap pelayaran kapal

A.2. Banjir Siklus 10 Tahunan di Riau

Kondisi cuaca ekstrim hujan di Riau juga sering menyebabkan banjir yang merata. Pada saat pelaksanaan pekerjaan ini, malah terjadi kondisi cuaca hujan dengan siklus 10 tahunan. Banjir yang terjadi sangat tinggi sehingga memaksa penduduk sekitar bantaran sungai untuk mengungsi karena rumah mereka yang terendam air. Banjir ini telah membuat pengiriman mesin menjadi tertunda cukup lama karena banjir telah membuat area jetty untuk proses rolling-on dan rolling-off yang akan dan sedang dikerjakan terendam air cukup dalam. Pekerjaan jetty hanya dapat dimulai setelah air banjir surut beberapa bulan kemudian. Terjadi keterlambatan yang signifikan akibat banjir tersebut.

banjir menenggelamkan area sekitar temporary jetty gili
banjir yang telah menenggelamkan temporary jetty yang sedang dikerjakan
berita media lokal mengenai kejadian banjir di DAS sungai mandau

Pada saat pengiriman engine #7, cuaca memasuki musim hujan kembali. Elevasi air naik cukup signifikan karena terjadi hujan deras tiap hari. Sehingga proses pengiriman engine dari Gili ke Pungut hingga setidaknya proses rolling-off di jetty terakhir harus dilakukan dengan segera. Memahami risiko besar banjir dapat terulang kembali jika tidak dilakukan tindakan cepat, maka pekerjaan terpaksa dilakukan hingga tengah malam dan diberlakukan status AWAS. Saat-saat yang cukup menegangkan karena air telah menenggelamkan sebagian permukaan jetty terakhir.

foto engine #7 selesai proses rolling-on di jetty gili pada jam 02.00 pagi
rolloff
foto proses rolling-off terakhir engine #7 dengan jetty sudah terendam sebagian

A.3. Frekuensi Petir yang Tinggi

Tak hanya banjir saat musim hujan ekstrim, Riau terkenal akan banyaknya kasus penduduk yang tersambar petir karena memang daerah ini memiliki potensi petir yang tinggi. Hal ini harus diperhatikan mengingat tinggi mesin yang lumayan tinggi saat berlayar maupun saat disimpan di area laydown dengan kondisi lapang. Sambaran petir pada engine yang memiliki banyak perangkat/instrumen elektrik akan berpotensi menimbulkan kegagalan beberapa fungsi engine nantinya. Sehingga diperlukan alat penangkap petir pada lokasi laydown area.

berita media lokal mengenai tingginya bahaya petir di riau

A.4. Kekeringan Ekstrim dan Kebakaran Hutan

Problem cuaca lain yang juga sangat menghambat adalah cuaca kering yang ekstrim. Kondisi ini telah membuat sungai menjadi kehilangan kedalaman air yang sangat signifikan. Draft air sungai yang semula berdasarkan survey dinyatakan cukup, akhirnya menjadi sangat dangkal sehingga tidak mungkin dilalui oleh tongkang pengangkut engine.

Kondisi cuaca kering tersebut juga sering membuat hutan di propinsi Riau mengalami kebakaran. Sehingga penting untuk memperhatikan area laydown yaitu tempat penyimpanan engine sementara agar aman terhadap bahaya kebakaran hutan.

berita media lokal mengenai kebakaran hutan riau

B. Kondisi Sosial-Politik-Ekonomi

B.1. Kondisi Sosial-Politik

Mata pencaharian penduduk sekitar aliran sungai adalah nelayan. Dimana metode menangkap ikan dengan menebar alat penangkap ikan berukuran variasi di sepanjang sungai. Banyaknya alat penangkap ikan yang ditinggalkan tersebut membuat perlunya koordinasi kepada semua nelayan sebelum melakukan perjalanan sungai. Dengan panjang sungai hampir 60 km, pekerjaan koordinasi ke seluruh nelayan ini bukanlah pekerjaan yang gampang. Walaupun sebagian besar dari mereka sebenarnya masih satu kerabat/keluarga besar.

Dalam melakukan koordinasi, sangatlah sulit untuk bisa menemui kata sepakat. Hal ini karena mulai dari pejabat desa hingga RT/RW, organisasi desa seperti perkumpulan sarjana, pemuda, pekerja transportasi, nelayan, dan lainnya terkesan berjalan sendiri-sendiri atau terbecah belah menjadi beberapa kelompok. Kondisi ini menunjukkan telah terjadi krisis leadership di desa tersebut.

Sebagai contoh ketika sekelompok pemuda meminta jasa atas menjaga alat berat (yang sebenarnya sudah ada yang menjaganya). Ketika satu kelompok telah dilakukan kerja sama, belakangan muncul kelompok lain dengan atas nama yang sama yang melakukan hal serupa.

Di lain kesempatan, sekelompok warga yang mengatasnamakan persatuan mahasiswa desa menuntut ganti rugi atas kerusakan alat penangkap ikan setelah dilewati tongkang kosong. Lalu mereka seolah2 mengorganisir klaim ini. Setelah klaim diberikan, ternyata sebagian dari penerima klaim adalah nelayan fiktif. Sebagian nelayan yang tidak dimasukkan namanya dalam daftar klaim tidak menerima hasil dari organisasi ini.

Ada lagi organisasi SPTI (Serikat Pekerja Transportasi Indonesia) yang kemudian terpecah dua karena memperebutkan hak untuk mendapatkan uang atas rencana masuknya mesin ini. Organisasi ini kemudian menjadi OPBD yang disyahkan oleh kepala desa yang setelah dicheck ke Pemkab ternyata tidak terdaftar. Organisasi ini dengan cukup pede mengirimkan surat resmi mengenai permintaan dana lapangan atas pengiriman mesin.

Pernah pula ada penduduk (entah dari mana) yang mengaku utusan LSM Matikor (Masyarakat Anti Korupsi) yang minta bantuan dana ke proyek. Awalnya datang untuk silaturrahmi, yang akhirnya pembicaraan berujung pada UUD (Ujung-Ujungnya Duit), meminta dana operasional khusus. Setelah itu ketika penulis memonitor proses rolling-off di suatu jetty, orang ini terlihat diantara penduduk sekitar. Well, ternyata dibohongin.

Loading...

B.2. Kondisi Ekonomi

Sebagian besar motif yang terindikasi kuat adalah motif ekonomi yaitu keinginan untuk mendapatkan uang secara instan dan dengan cara politik praktis. Kondisi perekonomian penduduk sebenarnya tidaklah terlalu miskin. Cukup banyak penduduk yang telah memiliki rumah yang layak. Kebanyakan mereka cukup mampu karena menjual sebagian besarnya tanahnya. Kira-kira mereka adalah tuan tanah. Seorang yang dipekerjakan di proyek bahkan mengaku baru saja menjual tanahnya senilai 1,7 miliar. Bisa anda bayangkan!

Namun yang disayangkan adalah mereka cenderung tidak mampu untuk mengelola uang itu sendiri. Uang hasil gajian atau yang lain dipergunakan untuk membeli barang seperti sepeda motor baru, mobil, memperbaiki rumah, bahkan ke lokalisasi. Inilah biang keladinya. Seandainya mereka mampu mengelola uang mereka dengan baik, tentu ceritanya akan beda.

Di daerah ini jangan dikira gampang untuk melakukan pembebasan tanah. Harga yang diminta berlipat-lipat dari harga wajarnya. Ini menjadi kesulitan tersendiri ketika PLN berusaha untuk meluaskan area pembangkit ataupun untuk area jaringan pipa gasnya.

Menurut beberapa orang, kampung ini sangat terkenal dengan sikap saling iri yang mengakibatkan terpecah belahnya penduduk dalam beberapa kelompok. Adanya informasi uang yang diterima kelompok tertentu, menjadi inspirasi kelompok yang lain untuk mendapatkan uang itu dengan caranya sendiri.

Bahkan suatu ketika proyek dalam rangka melaksanakan program CSR nya dengan memberikan sumbangan dana dan material ke beberapa masjid sekitar proyek, ada sebagian kelompok yang menyebarkan isu bahwa dana tersebut sangat besar dan diselewengkan oleh kelompok yang lain.

Problem yang paling menghambat sebenarnya adalah kesadaran masyarakat. Sikap “aji mumpung” digunakan untuk memperkaya diri secara pribadi sangat mendominasi sebagian besar penduduk sekitar. Hanya sedikit sekali masyarakat yang sadar akan pentingnya pekerjaan proyek ini untuk mereka.

Pernah suatu ketika akan memotong pohon pepaya ukuran kecil untuk menjaga clearance lebar perjalanan darat mesin ini, oknum penduduk meminta uang ganti rugi sebesar 2 juta rupiah. Terjadi pula klaim kelompok nelayan atas kerusakan alat penangkap ikan senilai ratusan juta rupiah dimana sebagian adalah fiktif. Terjadi pula blokade oleh sebagian nelayan saat pengiriman engine di darat yang menuntut ganti rugi yang sebenarnya sudah dibayarkan. Pendek kata ini benar-benar luar biasa.

blokade oleh penduduk menuntut ganti rugi yang sudah dibayarkan

Amat disayangkan sikap seperti itu. Inilah PR pemerintah dalam bidang pendidikan yang sangat mendesak jika tidak akan banyak daerah yang tertinggal dari sisi cara berfikir seperti yang disampaikan di atas. Seandainya penduduk berfikir lebih maju, mestinya mereka mengajukan proposal kerja sama dimana mereka membantu proses pekerjaan proyek dan mengusulkan untuk dibuatkan suatu infrastruktur jembatan sederhana yang dapat membuka akses ekonomi yang selama ini terisolir atau pasar sederhana yang belum pernah ada. Inilah bedanya berfikir maju dan tidak. Situasi yang ada sungguh menyedihkan, sungguh-sungguh menyedihkan!

C. Kondisi Keamanan

C.1. Keamanan di Pelabuhan Trieste

Permasalahan sosial dan keamanan telah dimulai sejak awal proses pengiriman di Italia. Adanya monopoli bisnis di pelabuhan Trieste (Italia) tempat fabrikasi mesin gas oleh mafia Italia. Di sana terdapat dua pelabuhan yang berdekatan (berseberangan) yang bersaing ketat yaitu pelabuhan Sea Metal dan pelabuhan Frigomar. Hal ini membuat vendor forwarder kesulitan berkoordinasi dengan otoritas pelabuhan di sana.

peta pelabuhan trieste – italy

C.2. Keamanan di Gili

Terjadi pula sabotase pada suatu daerah yang dilintasi oleh engine, dimana sempat terjadi perampasan alat genset oleh preman setempat. Selain itu pernah terjadi ancaman pembunuhan sedemikian penulis akhirnya bekerja sama dengan TNI dalam menjaga keamanan personil proyek dan peralatan kerja selama proses pelaksanaan. Sabotase tersebut terjadi akibat dispute kepemilikan lahan tanah yang digunakan sebagai temporary jetty. Padahal area tanah tersebut sebenarnya merupakan area konsesi. Dispute lahan tersebut terjadi pada beberapa lokasi temporary jetty.

lokasi tanah yang dispute sebelum dibangun temporary jetty
personil TNI ikut membantu mengamankan proses pengiriman

C.3. Keamanan di Lokasi Proyek

Sepanjang pelaksanaan proyek, telah terjadi beberapa kali kasus pencurian yang cukup merugikan. Beberapa yang sering dicuri adalah sisa material kayu, besi, dan kabel utuh maupun terpasang.

Pencurian kabel yang terpasang sangat mengkhawatirkan karena sebagian yang dicuri itu adalah kabel listrik. Jika kabel tersebut sudah teraliri listrik tegangan tinggi, maka membahayakan pencuri dan pembangkit sendiri.

Proyek akhirnya meningkatkan keamanan dengan bekerja sama dengan TNI sebagai security dan memasang beberapa cctv pada daerah yang rawan kecurian. Di samping itu proses keluar masuk pekerja dan kendaraan terpaksa harus melalui proses yang ketat.

Dengan tambahan banyaknya masalah non-teknis yang dihadapi, tak berlebihan bahwa proses pengiriman engine ini sendiri sebenarnya sudah merupakan suatu proyek tersendiri yang sudah sedemikian memiliki kompleksitas yang sangat tinggi. Problem teknis tentu dapat diatasi dengan analisis baku. Tapi jika problem yang menyangkut alam dan manusia tentu sangat sulit untuk diatasi. Semoga menjadi lesson learned yang berharga.

Sumber referensi: manajemenproyekindonesia.com

Sekian postingan kali ini, semoga bisa bermanfaat untuk kita semua. Jangan lupa share artikel ini ke sosial media agar yang lain bisa mendapat manfaatnya. Untuk mengikuti perbaruan konten situs ini, silahkan berlangganan melalui notifikasi yang muncul saat mengakse situs ini. Sekian dan terima kasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here