Beranda Manajemen Proyek Metode Pelaksanaan Konstruksi

Metode Pelaksanaan Konstruksi

438
0
BERBAGI
pelaksanaan konstruksi
pelaksanaan konstruksi

Dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi, ada kalanya diperlukan suatu metode terobosan untuk menyelesaikan berbagai masalah di lapangan. Khususnya pada saat-saat menghadapi kendala yang diakibatkan oleh kondisi di lapangan yang tidak sesuai dengan dugaan sebelumnya. Untuk itu, penerapan metode pelaksanaan kontruksi yang sesuai kondisi lapangan, akan sangat membantu dalam penyelesaian proyek konstruksi bersangkutan.

Metode Pelaksanaan Konstruksi

Penerapan metode pelaksanaan konstruksi, selain terkait erat dengan kondisi lapangan dimana suatu proyek konstruksi dikerjakan, juga tergantung jenis proyek yang dikerjakan.

Metode pelaksanaan untuk bangunan gedung berbeda dengan metode pekerjaan bangunan irigasi, bangunan pembangkit listrik, kontruksi dermaga, maupun konstruksi jalan dan jembatan. Namun demikian, pelaksanaan semua jenis proyek konstruksi umumnya dimulai dengan pekerjan persiapan.

Baca: Metode Pelaksanaan Pekerjaan Persiapan

Dalam melaksanakan Pekerjaan tersebut diatas diperlukan Metode Pelaksanaan yaitu cara pelaksanaan suatu pekerjaan agar selesai dengan baik dan waktu yang tepat sesuai dengan rencana kerja. Adapun metode yang digunakan yaitu sebagai berikut:

1) Pekerjaan Pelaksanaan

Pelaksanaan pekerjaan struktur pile cap pada proyek ini memiliki ruang lingkup pekerjaan yang mengacu pada gambar kerja. Alur pekerjaan pile cap dapat dilihat di bawah ini:

START → PEKERJAAN PEMADATAN → PEMBUATAN LANTAI KERJA → PEMBEKISTINGAN → PENULANGAN → PENGECORAN → PEMBONGKARAN BEKISTING → PERAWATAN → FINISH.

2) Pengawasan

Prosedur pelaksanaan pekerjaan agar tercapai sesuai dengan rencana mutu proyek maka harus melakukan prosedur-prosedur sebagai berikut:

A. Pemeriksaan Mutu dan Pengujian
B. Pemeriksaan Progres/ Kemajuan Pekerjaan

Dari kedua prosedur tersebut, pada postingan ini akan dijelaskan secara lebih detail lagi, simak penjelasannya dibawah:

A. Pemeriksaan Mutu dan Pengujian

  • Pelaksanaan sistem pengendalian kualitas dijelaskan secara lengkap pada Kontrak. Manajemen Konstruksi dan Tim Teknis akan memeriksa setiap item pekerjaan untuk dievaluasi pada setiap aspek.
  • Standar yang akan digunakan pada pekerjaan tersebut sesuai Kontrak, sehingga Kontraktor mengajukan ke Manajemen Konstruksi dan Tim Teknis, peralatan yang digunakan.
  • Standar lain dapat juga digunakan yang terutama tertera didalam spesifikasi atau yang disetujui secara tertulis oleh Manajemen Konstruksi dan Tim Teknis.
  • Disetiap masalah dimana kualitas dari perencanaan atau material dan metode pengambilan sampel dan pengujian yang tidak dijelaskan dalam spesifikasi, maka dibutuhkan tes standar sebagai berikut:
    • AASHTO American Associate of State Highway and Transportation Officials.
    • ASTM American Society for Testing and Materials.
    • JIS Japan Industries Standard.
    • SNI Standar Nasional Indonesia.
    • Standar lain yang disetujui oleh Manajemen Konstruksi dan Team Teknis.

Tabel inspeksi pekerjaan sesuai rencana mutu pekerjaan dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

No. Inspeksi Pekerjaan Cek Parameter/ Dimensi Alat yang dipakai
1. Pekerjaan Galian Sesuai spesifikasi: slope, dimensi, elevasi Meteran dan Waterpass
2 Pekerjaan Bekisting Dimensi, kuat, rapat Meteran
3. Pekerjaan Beton Slump, kuat desak beton, dimensi Alat Slump, Cetakan Benda Uji Kubus, visual, meteran

Berikut cara pengujian mutu dalam pelaksanaan, akan diuraikan sebagai berikut:

a) Pekerjaan Cor

Sebelum mulai pekerjaan cor dan setelah persetujuan semua material cor, kontraktor akan membuat dan menguji dibawah pengawasan Manajemen Konstruksi dan Tim Teknis. Dan percobaan pengujian campuran semua tipe/ kelas cor akan dilakukan:

Material Dan Pengujian Frekwensi Pengujian
Semen

  • Mill Certificate
  • Chemical Analysis
Kontraktor akan menyampaikan total semen yang akan dikirim atau setiap jumlah pengiriman ditentukan/ persetujuan oleh Manajemen Konstruksi dan Tim Teknis.
Aggregate Kasar

  • Gradasi
  • Kandungan lumpur
  • Berat Jenis
  • Peresapan air
  • Keausan/ abrasi
  • Sebelum tiap pengujian.
  • Setiap material yang dikirim ke lapangan.
  • Setiap saat bila sumber material ada perubahan.
Aggregate Halus

  • Gradasi
  • Kandungan lumpur
  • Berat Jenis
  • Peresapan air
  • Keausan/ abrasi
  • Sebelum tiap pengujian.
  • Setiap material yang dikirim ke lapangan.
  • Setiap saat bila sumber material ada perubahan.
Beton/Cor

  • Pengujian Slump
  • Pengujian kuat desak beton
  • Kandungan air
  • Setiap pendatangan cor pada bagian pekerjaan.
  • Tiap adukan cor yang akan ditransport dari Batching plant, set sample kubus untuk tiap 5 m3 beton campuran yang dicor atau yang ditentukan dalam spesifikasi.
  • Setiap percobaan campuran (trial mix) tiap tipe cor.

b) Prosedur Pengujian Slump Beton

Slump beton merupakan penurunan ketinggian pada pusat permukaan atas beton yang diukur segera setelah cetakan uji slump diangkat. Hasil uji slump digunakan dalam pekerjaan, perencanaan campuran beton dan pengendalian mutu beton pada pelaksanaan pembetonan. Berikut adalah langkah kerja pengujian slump beton:

  • Basahi cetakan dan letakkan di atas permukaan datar, lembab, tidak menyerap air dan kaku. Cetakan harus ditahan secara kokoh di tempat selama pengisian, oleh operator yang berdiri di atas bagian injakan. Isi cetakan dalam tiga lapis, setiap lapis berisi sepertiga dari volume cetakan.
  • Padatkan setiap lapisan dengan 25 tusukan menggunakan batang pemadat. Sebarkan penusukan secara merata di atas permukaan setiap lapisan.
  • Dalam pengisian dan pemadatan lapisan atas, lebihkan adukan beton di atas cetakan sebelum pemadatan dimulai. Bila pemadatan menghasilkan beton turun dibawah ujung atas cetakan, tambahkan adukan beton untuk tetap menjaga adanya kelebihan beton pada bagian atas dari cetakan.
  • Setelah lapisan atas selesai dipadatkan, ratakan permukaan beton pada bagian atas cetakan dengan cara menggelindingkan batang penusuk di atasnya. Lepaskan segera cetakan dari beton dengan cara mengangkat dalam arah vertikal secara-hati hati. Angkat cetakan dengan jarak 300 mm dalam waktu 5 ± 2 detik.
  • Setelah beton menunjukkan penurunan pada permukaan, ukur segera slump dengan menentukan perbedaan vertikal antara bagian atas cetakan dan bagian pusat permukaan atas beton.
c) Pengujian Kuat Tekan Beton
  • Penyedia Jasa harus mendapatkan sejumlah hasil pengujian kuat tekan benda uji beton dari pekerjaan beton yang dilaksanakan. Setiap hasil adalah nilai rata-rata dari dua nilai kuat tekan benda uji dalam satu set benda uji yang terdiri dari 3 benda uji, yang selisih nilai antara keduanya < 5% untuk satu umur, untuk setiap kuat tekan beton dan untuk setiap jenis komponen struktur yang dicor terpisah pada tiap hari pengecoran.
  • Untuk keperluan pengujian kuat tekan beton, Penyedia Jasa harus menyediakan benda uji beton berupa kubus 150 x 150 x 150 mm, dan harus dirawat sesuai dengan SNI 03-4810-1998. Benda uji tersebut harus dicetak bersamaan dan diambil dari beton yang akan dicorkan, dan kemudian dirawat sesuai dengan perawatan yang dilakukan di laboratorium.
  • Untuk pencampuran secara manual, maka pada pekerjaan beton dengan jumlah masing-masing mutu beton < 60 m3 harus diperoleh satu hasil uji untuk setiap maksimum 5 m3 beton pada interval yang kira-kira sama, dengan minimum satu hasil uji tiap hari.
  • Dalam segala hal jumlah hasil pengujian tidak boleh kurang dari empat hasil untuk masing-masing umur. Apabila pekerjaan beton mencapai jumlah > 60 m3, maka untuk setiap maksimum 10 m3 beton berikutnya setelah jumlah 60 m3 tercapai harus diperoleh satu hasil uji.
  • Untuk pengecoran hasil produksi ready mix, maka pada pekerjaan beton dengan jumlah masing-masing mutu < 60 m3 harus diperoleh satu hasil uji untuk setiap maksimum 15 m3 beton pada interval yang kira-kira sama, dengan minimum satu hasil uji tiap hari.
  • Dalam segala hal jumlah hasil pengujian tidak boleh kurang dari empat. Apabila pekerjaan beton mencapai jumlah > 60 m3, maka untuk setiap maksimum 20 m3 beton berikutnya setelah jumlah 60 m3 tercapai harus diperoleh satu hasil uji.
d) Pekerjaan Penulangan

Baja tulangan harus bebas dari karat, oli, lumpur, dan lain-lain yang berpengaruh terhadap struktur. Semua gambar penulangan, daftar tulangan dan rencana pembentukan harus dimintakan persetujuan Manajemen Konstruksi dan Tim Teknis sebelum pemotongan, pembengkokkan dan pemasangan di lapangan.

B. Pemeriksaan Progres/ Kemajuan Pekerjaan

Selama pelaksanaan pekerjaan waktu dan target phisik yang dicapai dapat dikontrol melalui kurva S dan Network Planning (CPM), sehingga bila terjadi penyimpangan kemajuan pekerjaan yang positif atau a head dan negatif atau delay, maka dapat dilihat dimana penyimpangan tersebut terjadi, sehingga dalam pembuatan target pelaksanaan harus memahami atau mengetahui masalah-masalah yang akan mungkin terjadi.
Bila penyimpangan positif akan dipertahankan, tetapi bila negative perlu diadakan perbaikan-perbaikan yang kemungkinan diakibatkan dari permasalahan-permasalahan diantaranya sebagai berikut:

  • Peralatan yang kurang memadai.
  • Personil (skill/ jumlah) yang kurang memadai.
  • Material masalah pengadaan/ stok.
  • Metode kerja yang kurang tepat.
  • Cuaca/ iklim dan waktu saat kerja (malam/siang).
  • Perubahan desain karena kondisi lapangan.
  • Hasil pengujian yang tidak memenuhi syarat.
  • Adanya accident, permasalahan penduduk setempat, dan bencana alam.

Untuk meminimalkan permasalah tersebut diperlukan persiapan pekerjaan yang matang dan solusi permasalahan yang cepat dan tepat serta perlu dibuat rencana kerja harian/ mingguan dan dievaluasi secepatnya. Berikut jadwal inspeksi dan jadwal testing dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel Jadwal Inspeksi

No. Uraian Jadwal Inspeksi
1. Pekerjaan Penulangan (Besi Beton) Pada saat besi beton sampai di Site
Pada saat selesai terpasang, sebelum dicor beton
2. Pekerjaan Beton Pada saat penyiapan bahan baku
Pada saat pencampuran dan pengecoran
Curing setelah pengecoran

Tabel Jadwal Testing

No. Uraian Jenis Testing Jadwal Testing
1. Pekerjaan Beton Sieve Analysis Sebelum pengecoran Dilaksanakan
a. Job Mix Formula Beton Mix Proportion Sebelum pengecoran Dilaksanakan
Compression Strength Sebelum pengecoran Dilaksanakan
b. Campuran Beton Sampling Sesuai Spesifik Teknik
Compression Strength Sesuai Spesifik Teknik
Slump Test Sesuai Spesifik Teknik

Untuk zaman seperti sekarang aspek teknologi sangat berperan dalam suatu proyek kontruksi. Umumnya, aplikasi teknologi ini banyak diterapkan dalam metode-metode pelaksanaan kontruksi. Penggunaan metode yang tepat, praktis, cepat, dan aman sangat membantu dalam penyelesaian pekerjaan pada suatu proyek kontruksi. Sehingga target waktu, biaya dan mutu sebagaimana ditetapkan, dapat tercapai.

Sumber referensi: situstekniksipil.com

Sekian artikel ini semoga bisa bermanfaat untuk rekan-rekan proyek sekalian. Jangan lupa share artikel ini ke sosial media agar yang lain bisa mendapatkan ilmunya juga. Untuk mengikuti perbaruan konten situs ini, silahkan berlangganan pada notifikasi yang muncul saat mengakses situs ini atau bisa dengan like fanspage blog ini di facebook.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama anda disini