Beranda Struktur Bangunan Seberapa Pentingkah Shop Drawing Dalam Sebuah Proyek?

Seberapa Pentingkah Shop Drawing Dalam Sebuah Proyek?

2281
0
BERBAGI
Blog ini di jual. Rentang penawaran antara Rp100 juta - Rp500 juta. Jika berminat silahkan kontak DISINI.
kesalahan pemasangan dilapangan
kesalahan pemasangan dilapangan

Terkadang kita sering mendapati pengawas muda kontraktor yang belum terlalu fasih untuk struktur dilapangan, entah itu terjadi kesalahan pemasangan atau masalah-masalah struktur lainnya. Contohnya saja adalah mengenai penerapan tulangan pondasi dan sloof yang sudah selesai dirakit tetapi masih ada kesalahan dalam pemasangannya, seperti ilustrasi pada gambar dibawah ini.

kesalahan dalam pemasangan sloof
kesalahan dalam pemasangan sloof

Masalah diatas biasanya terjadi ketika pihak kontraktor belum mengajukan shop drawing tapi sudah mulai kerja, dalam artian kerja setaunya saja. Ini tentu akan menimbulkan masalah ketika perencana struktur menemukan ketidaksesuaian antara struktur dilapangan dan pada shop drawing.

Seberapa Pentingkah Shop Drawing Dalam Sebuah Proyek?

Shop drawing adalah gambar yang lebih detail daripada gambar desain konsultan. Gambar tersebut menjelaskan kepada konsultan pengawas mengenai sejauh mana kepahaman kontraktor dalam membaca gambar desain.

Shop drawing harus diajukan kepada konsultan pengawas dan disetujuinya terlebih dahulu sebelum pekerjaan fisiknya dimulai oleh kontraktor.

Pihak kontraktor dituntut bisa membaca gambar konsultan perencana dan mendetailkannya.

Berikut adalah urutan yang idealΒ dalam pelaksanaan sebuah proyek seperti ini:

  1. Owner memiliki impian ingin membuat bangunan.
  2. Owner menyampaikan idenya kepada arsitek.
  3. Arsitek mengembangkan ide tersebut dan menuangkannya dalam bentuk gambar.
  4. Setelah gambar disetujui owner, gambar diserahkan ke konsultan struktur untuk perencanaan strukturnya.
  5. Kemudian hasil gambar arsitek, mekanikal elektrikal dan struktur dihitung biayanya oleh Quantity Surveyor (QS), maka terbitlah RAB (Rencana Anggaran Biaya) dan BQ (Bill of Quantity).
  6. Proyek dilelangkan untuk mencari kontraktor pelaksana yang tepat.
  7. Pelaksana di dapat, gambar dikembangkan menjadi shop drawing dan diserahkan ke konsultan pengawas untuk diperiksa.
  8. Setelah lolos periksa dari konsultan pengawas, barulah pelaksanaan fisik dikerjakan.
  9. Pekerjaan diopname (dihitung) dan disetujui konsultan pengawas.
  10. Kontraktor menerima bayaran sesuai progres pekerjaan.

Kita sebagai konsultan perencana dan konsultan pengawas tentu sering menemukan banyak kesalahan dalam pelaksanaan, khususnya dalam hal penulangan struktur.

Ini terjadi karena kontraktor tidak menyerahkan shop drawing terlebih dahulu kepada konsultan perencana.

Betapa banyak waktu, dana, dan tenaga yang terbuang percuma karena menyepelekan masalah shop drawing.

Kadang kita harus mengakui tugas kita sebagai konsultan pengawas kurang maksimal, karena kita tidak selalu berada di proyek untuk mengawasi.

Inti dari tulisan ini adalah jangan mulai kerja kalau belum ada shop drawing.

Sekian postingan kali ini, mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk rekan-rekan proyek khususnya untuk kontraktor. Jangan lupa share artikel ini ke sosial media agar yang lain bisa mendapatkan ilmunya juga. Sampai jumpa pada artikel selanjutnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama anda disini