Beranda Manajemen Proyek Manakah yang Terbaik: S-Curve, CPM, atau EVM?

Manakah yang Terbaik: S-Curve, CPM, atau EVM?

2362
0
BERBAGI
Bantu support blog asdar.id agar bisa lebih berkembang lagi untuk membagikan ilmu pengetahuan secara gratis. Caranya yaitu dengan menyisihkan sedikit rejeki anda melalui laman donasi, klik DISINI. Semoga apa yang anda berikan bisa menjadi penolong di Akhirat kelak, Amin Ya Rabbal 'Alamin :-)
S-Curve, CPM, dan EVM
S-Curve, CPM, dan EVM

S-Curve yang praktis telah lama digunakan pada proyek Pemerintah maupun Swasta. Bar Chart dan turunannya yaitu CPM yang lebih akurat dijadikan persyaratan dalam mengajukan penawaran proyek, namun jarang digunakan pada pelaksanaannya. EVM (Earned Value Method) yang cukup kompleks bahkan β€œnyaris tak terdengar”. Lalu sebenarnya yang manakah yang harus digunakan?

Seperti yang telah dibahas dalam artikel sebelumnya bahwa proyek adalah unik. Memiliki karakteristik yang tidak persis sama antara proyek yang satu dengan yang lainnya. Karakteristik proyek yang mempengaruhi pertimbangan dalam menentukan alat yang baik dalam membuat atau monitoring schedule proyek adalah sebagai berikut:

  • Nilai kontrak proyek
  • Kompleksitas proyek
  • Waktu pelaksanaan proyek
  • Jenis proyek
  • Kompetensi Tim proyek
  • Fungsi proyek

Kita akan lihat penjelasan masing-masing jenis alat monitoring schedule untuk menentukan jenis alat monitoring yang mana yang terbaik untuk digunakan dengan mengaitkannya terhadap kondisi atau karakteristik proyek.

S-Curve (Kurva-S)

Grafik Kurva-S

S-Curve atau Kurva S adalah suatu grafik hubungan antara waktu pelaksanaan proyek dengan nilai akumulasi progres pelaksanaan proyek mulai dari awal hingga proyek selesai. Kurva-S sudah jamak bagi pelaku proyek. Umumnya proyek menggunakan S-Curve dalam perencanaan dan monitoring schedule pelaksanaan proyek, baik pemerintah maupun swasta.

Critical Path Method (CPM)

CPM merupakan suatu metode dalam mengidentifikasi jalur atau item pekerjaan yang kritis. Untuk membuatnya dapat secara manual matematis. Cukup rumit apalagi item pekerjaan yang banyak dan kompleks. Namun saat ini banyak software yang menyediakan fasilitas untuk mendapatkan CPM.

CPM merupakan produk turunan dari Bar Chart. CPM lebih jarang digunakan dalam proyek dibandingkan dengan Kurva-S. Pada kenyataannya banyak pelaku proyek (Kontraktor, Pengawas, dan Owner) belum familiar dengan alat yang satu ini kecuali untuk yang sudah memiliki pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang memadai. Namun jumlahnya masih belum seberapa.

Penggunaan CPM baru sebatas syarat yang harus diajukan oleh kontraktor dalam lelang. Setelah itu dalam pelaksanaannya, hampir tidak pernah dipakai. Seharusnya CPM yang dibuat pada saat tender, menjadi baseline dalam monitoring pelaksanaan proyek.

Berdasarkan pengalaman di proyek, metode CPM sebenarnya sangat powerfull dalam membantu proyek keluar dari masalah keterlambatan. Asal perencanaan awalnya dibuat cukup memadai. Berikut diberikan contoh CPM di proyek:

Contoh sederhana CPM
Contoh aplikasi CPM dengan Software

CPM mengilustrasikan terlambat atau tidak proyek dalam bentuk waktu akhir pelaksanaan proyek. CPM berisi uraian pekerjaan yang berada di jalur kritis. Pekerjaan-pekerjaan yang berada di jalur kritis harus dijaga oleh Tim Proyek. Start-Finish-Duration item pekerjaan yang berada pada jalur kritis harus tidak boleh meleset karena akan menyebabkan waktu pelaksanaan akan mundur atau terlambat.

Earned Value Method (EVM)

Konsep earned value digunakan sebagai alat ukur kinerja yang mengintegrasikan antara aspek biaya dan aspek waktu. Penggunaannya di Indonesia β€œnyaris tak terdengar”.

Penggunaan konsep earned value dalam penilaian kinerja proyek dijelaskan melalui Gambar di bawah ini. Beberapa istilah yang terkait dengan penilaian ini adalah Cost Variance, Schedule Variance, Cost Performance Index, Schedule Performance Index, Estimate at Completion, dan Variance at Completion.

Grafik kurva S Earned Value

Walaupun konsep earned value terlihat sederhana, namun implementasinya dalam pengelolaan proyek tidaklah mudah karena harus didukung oleh sistem manajemen yang mampu menyediakan input data yang lengkap dalam perhitungan kinerja proyek. Bila kinerja proyek buruk, sistem akan mampu menelusuri bagian mana yang bermasalah yang menyebabkan pembengkakan biaya dan terjadinya keterlambatan pelaksanaan proyek. Terdapat 10 kriteria bagi terselenggaranya pengelolaan proyek yang berdasarkan pada konsep earned value, sebagai berikut:

  • Komitmen manajemen.
  • Menetapkan lingkup proyek dengan work breakdown structure (WBS).
  • Menciptakan management control cells (cost account).
  • Menetapkan tanggung jawab fungsional untuk setiap bagian terkecil dari manajemen proyek (project’s management control cells).
  • Membuat earned value baseline..
  • Penggunaan proses formal penjadwalan proyek.
  • Pengelolaan biaya tidak langsung (indirect cost).
  • Secara periodik, mengestimasi biaya penyelesaian proyek.
  • Pelaporan status proyek.
  • Menyusun historical database.

loading...

Pakai yang Mana?

Berdasarkan penjelasan mengenai masing-masing alat kendali schedule dan melihat karakteristik proyek, dapat disusun suatu tabel rekomendasi alat kontrol yang mana yang sesuai dengan berbagai kondisi proyek. Pemakaian tidak terbatas harus menggunakan salah satu. Jika memang diperlukan dapat menggunakan lebih dari satu atau malah pakai ketiga-tiganya. Semua tergantung dari kondisi proyek yang dilaksanakan.

Pemilihan alat yang digunakan juga harus memperhatikan situasi saat proyek tengah berjalan. Jadi tidak hanya ditentukan pada saat proyek belum dilaksanakan. Artinya, bisa saja proyek yang cukup longgar waktu pelaksanaannya dengan nilai kontrak yang kecil dan kompleksitasnya rendah dimana awalnya hanya ditentukan menggunakan S-Curve dapat bertambah alat kendalinya menjadi kombinasi S-Curve dan CPM. Ini situasional. Pahami manfaat masing-masing alat kendali.

Berikut disampaikan tabel rekomendasi yang dimaksud yang dibuat berdasarkan pengalaman dan beberapa referensi yang terkait dengan pembahasan di atas:

No Karakteristik Proyek S-Curve CPM EVM
A Nilai Kontrak
Kecil √
Sedang √ √
Besar √ √
B Kompleksitas Proyek
Kecil √
Sedang √ √
Tinggi √ √
C Waktu Pelaksanaan Proyek
Singkat √
Sedang √ √
Panjang √ √
D Jenis Proyek
Pemerintah √
Swasta √ √
International √ √ √
Non-Konstruksi √
E Kompetensi Pelaku Proyek
Kurang √
Sedang √ √
Tinggi √ √

Contoh:

Jika proyek yang dilaksanakan memiliki karakteristik sebagai berikut:

Nilai kontrak kecil ( Rp. 20 M), kompleksitas sedang (Banyak item pekerjaan termasuk yang tidak standart dan keterkaitan antar pekerjaan cukup banyak), waktu pelaksanaan singkat (4 bulan), Jenis Proyek adalah proyek pemerintah, dan kompetensi pelaku proyek dianggap sedang. Maka alat kontrol schedule yang direkomendasikan adalah:

  • Nilai kontrak kecil (S-Curve)
  • Kompleksitas tinggi (S-Curve dan CPM)
  • Waktu pelaksanaan singkat (CPM)
  • Proyek pemerintah (S-Curve)
  • Kompetensi sedang (S-Curve dan CPM)

Berdasarkan kondisi di atas, maka dapat disarankan untuk menggunakan S-Curve sebagai alat kendali formal dalam frekuensi mingguan, namun dalam kesehariannya harus menggunakan CPM untuk kendali yang lebih teliti mengingat waktu pelaksanaan yang singkat.

Sumber referensi: manajemenproyekindonesia.com

Demikian artikel kali ini semoga bisa bermanfaat untuk kita semua dalam dunia proyek. Jangan lupa share artikel ini ke sosial media dan jika ingin terus mengikuti perbaruan konten situs ini, silahkan berlangganan melalui notifikasi yang muncul saat pertama kali mengakses situs ini. Sekian dan terimakasih kunjungannya πŸ™‚

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama anda disini