Beranda Manajemen Proyek Stop Mencuri, Start Efisiensi

Stop Mencuri, Start Efisiensi

61
0
BERBAGI
efisiensi dalam bisnis proyek
efisiensi dalam bisnis proyek

Siapa yang mencuri? Bukan siapa-siapa, penulis tidak tunjuk hidung dan menuduh atau menyindir satu pihak pun. Judul di atas ditujukan untuk semua pembaca blog ini. Bagi yang memang sudah, masih, atau berniat mencuri dalam aktifitas bisnisnya, mudah-mudahan postingan ini bisa membantu membuka pikiran anda.

Adalah wajar bila dalam aktifitas bisnis ada motif ingin mendapatkan keuntungan lebih. Karena begitulah harusnya suatu usaha. Harus tumbuh dan berkembang. Ciri-cirinya ditandai dengan pertumbuhan laba yang stabil. Sah-sah saja mau seperti itu, tapi jangan sampai melakukan praktik-praktik yang curang seperti “mencuri” dalam maksud yang luas.

Bisnis konstruksi sudah sejak lama dicurigai sebagai bisnis yang penuh dengan kecurangan, terutama pihak penyedia jasa yang sering jadi sasaran. Tapi tunggu dulu, tentu tidak ada asap jika tak ada api. Setelah mengamati kejadian-demi kejadian, penulis berkesimpulan bahwa hampir semua tindakan yang dianggap kecurangan yang terjadi memiliki sebab yang cukup beralasan. Apa saja alasan itu? Mari kita introspeksi saja karena itu akan jauh lebih baik bagi kita. Apalagi fokus postingan ini bukan ke arah itu.

Banyak jalan menuju Roma. Banyak rute menuju laba yang lebih baik. Rute tersebut adalah EFISIENSI. Mengapa demikian? Perlu disampaikan bahwa dunia konstruksi adalah suatu tempat bisnis dimana perkembangannya cukup lamban. Banyak sekali hal yang masih dapat dikembangkan dan tingginya tingkat pengulangan kesalahan. Ini berarti memberi peluang besar bagi pelaku konstruksi untuk mendapatkan keuntungan lebih dengan berusaha efisien dalam mengerjakan suatu proyek. Buktinya saya beberkan dalam beberapa kasus di bawah ini:

  • Masih ada pihak yang mengatakan bahwa bongkar bekisting harus 28 hari. Padahal penulis sudah pernah uji coba bongkar bekisting pelat lantai 24 jam dengan teknik bongkar bekisting shoring pada bentang pendek.
  • Ada subkontraktor lebih memilih menggunakan plywood tidak berlapis film. Padahal itu akan membuat plywood memiliki keawetan yang rendah.
  • Dalam procurement sewa genset, orang umumnya memilih genset dengan harga sewa paling murah. Padahal komponen harga BBM dengan genset itu adalah tiga kali lebih besar dari harga sewa. Sehingga tentu saja seharusnya lebih concern untuk memilih genset dengan kapasitas output sama namun tingkat konsumsi bahan bakar yang lebih rendah.
  • Dalam menentukan jumlah sediaan bekisting, misalnya 2,5 lantai untuk high rise building, itu selalu dianggap bahwa berlaku secara keseluruhan. Padahal maksud 2,5 lantai adalah sediaan komponen perancah balok saja, sedangkan yang lain cukup 1,5-2 lantai, bahkan untuk tembiring balok cukup 1 lantai saja.
  • Masih ada kontraktor yang mati-matian nego harga mandor serendah-rendahnya. Padahal harga upah yang terlalu rendah akan berakibat pada kualitas tenaga kerja yang dipilih adalah kelas 3 (baca: KW 3) yang berujung pada produktifitas pelaksanaan sehingga waktu pelaksanaan jadi molor. Lebih lanjut, ini akan menyebabkan biaya sewa alat dan overhead akan membengkak. Belum lagi jika hasilnya jelek, akan muncul biaya rework yang tidak sedikit.
  • Masih banyak karyawan kontraktor yang beranggapan bahwa sisa besi potongan adalah milik “lapangan”. Jika itu benar, maka tentu mereka akan tidak memikirkan bagaimana melakukan pemotongan sedemikian waste sekecil mungkin. Mereka akan berusaha waste yang cukup besar dengan harapan mendapat “jatah” lebih besar. Padahal sudah dibuat software khusus yang mampu menekan waste mendekati natural wastenya yaitu SOWB (silahkan baca tentang SOWB) dan sisa besi dapat dijual kembali dengan harga kurang lebih 50% dari harga beli yang dapat dimanfaatkan untuk menurunkan biaya pengadaan besi tulangan.
  • Banyak orang berpendapat pasang bendrat harus serapat mungkin. Padahal fungsi bendrat besi tulangan adalah mengikat rangkaian besi agar tidak banyak bergeser saat dilakukan pengecoran dan bendrat tidak berfungsi secara struktural. Bendrat perlu, tapi secukupnya.
  • Doktrin pemutusan tulangan balok pada ¼ L + 20D atau ¼ L begitu melekat kuat. Pada dasarnya itu adalah suatu pendekatan saja. Bukan angka mutlak bin telak. Kebutuhan penyaluran sangat tergantung pada kondisi strukturnya.
  • Karyawan kontraktor umumnya doyan kerja lembur hingga larut malam. Tanpa sadar tingginya biaya lembur ketimbang meningkatkan produktifitas pekerjaan dengan menaikkan kompetensi karyawan atau yang lainnya.

Kasus-kasus di atas, jelas akan menjadi efisiensi apabila kita memahami masalah yang ada secara lebih mendalam. Masih terlalu banyak kasus-kasus yang lain.

Diatas adalah beberapa contoh, sangat banyak kasus lain yang masih sering terjadi. Sehingga langkah-langkah untuk lebih efisien terbuka sangat lebar di konstruksi Indonesia, jelas akan menambah laba usaha bisnis konstruksi. Rute efisiensi jelas jauh lebih baik dari pada mencuri yang umumnya berujung pada konflik dan budaya yang tidak baik. Efisiensi hanya butuh kemauan dan berfikir kreatif. Itu saja. Bukankah lebih baik kreatif melakukan efisiensi ketimbang mencuri?

Sumber referensi: manajemenproyekindonesia.com

Artikel ini adalah awal dari tulisan berikutnya yang akan banyak membahas masalah efisiensi di proyek konstruksi. Share artikel ini semoga bisa memberi andil dalam mengubah wajah dunia konstruksi walaupun sedikit, yang penting penulis sudah memulainya. Bagaimana dengan Anda?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here